Kamis, 19 Desember 2013

Karikatur pun jadi media konfrontasi

Bung Karno tidak saja pandai berorasi. Bung Karno bukan saja seorang propagandis yang jempolan. Lebih dari itu, ia juga melakukan media massa sebagai alat konfrontasi melawan imperialisme Belanda. Melalui majalah Fikiran Ra’jat yang ia pimpin, juga koran Suluh Marhaen dan lain-lain, Bung Karno adalah seorang penulis yang produktif.
Bukan hanya melalui tulisan, Bung Karno juga membuat coretan karikatur sebagai senjata konfrontasi menentang penjajahan. Kepeloporannya, bahkan mengundang karikaturis amatir lain di berbagai pelosok negeri untuk mengirim karya, buah ekspresi jiwa menentang Belanda. Karikatur-karikatur berikut adalah beberapa contoh:

Karikatur di atas, dimuat di majalah Fikiran Ra’jat nomor 6 – 7, tanggal 12 Agustus 1932. Latar belakang situasi politik ketika itu adalah terjadinya perpecahan golongan nasionalis yang memuncak pada dua kubu, PNI dan Partindo. Bung Karno gagal menuntaskan konflik itu dengan Bung Hatta, sehingga akhirnya Bung Karno memilih masuk Partindo.
Sekalipun begitu, Bung Karno (gambar tengah) tetap mengulurkan tangannya kepada PNI. Karikatur itu pun dilengkapi teks yang bunyinya, “Kasih tangan saudara! Bung Karno masuk P.I. tetapi terus berpolitik persatuan. Kaum Marhaen yang sengsara, Bersatulah”.
Dan, dalam majalah Fikiran Ra’jat itu juga dikeluarkan “Maklumat dari Bung Karno Kepada Kaum Marhaen Indonesia” yang merupakan ajakan Bung Karno agar kaum Marhaen tetap bersatu.
Nah, simak karikatur kedua di bawah ini:

Karikatur ini dimuat dalam Fikiran Ra’jat nomor 9 tanggal 26 Agustus 1932. Karikatur tersebut dikutip dari “Nieuws van den Dag”, koran yang berafiliasi ke pemerintah Hindia Belanda yang menggambarkan Bung Karno sedang berteriak: “Kamu Marhaen bersatulah, musuh lagi mengamuk”, sedangkan ditandaskan oleh koran N.v.D. “musuh sama sekali tidak mengamuk, sebaliknya ia ada baik hati dan asih….” Dua pendapat yang kontras ini dikomentari oleh Fikiran Ra’jat hanya dengan dua huruf…. Hm….
Kita simak karikatur ketiga berikut:

Karikatur di atas dimuat dalam Fikiran Ra’jat nomor 10 – 11, tanggal 9 September 1932. Situasi politik yang melatarbelakangi keadaan waktu itu adalah adanya bahaya nyata imperialisme yang melahirkan “zaman malaise”. Sementara, para pemimpin pergerakan saling cekcok. Bung Karno senantiasa memperingatkan: “Buat keseribu kalinya Bung Karno berteriak…. Kaum Marhaen Bersatulah!!!”.
Simak pula karikatur berikut:

Karikatur ini dimuat dalam majalah Fikiran Ra’jat nomor 17, tanggal 21 Oktober 1932. Saat itu Bung Karno sangat giat melakukan aksi propaganda politik kemerdekaan Indonesia. Karikatur ini merupakan kontribusi pembaca. Di bawah gambar dibubuhi tulisan, “Bung Karno dengan 1.900 mijls laarzen, plus… botol karbol” Maksudnya adalah, dengan 1.900 mijls laarzen itu ialah jarak perjalanannya menggembleng rakyat yang telah dilakukan Bung Karno. Botol karbol dimaksudkan sebagai upaya Bung Karno menasihati kaum cecunguk.
Yang berikut, tidak kalah menariknya….

Karikatur ini dimuat Fikiran Ra’jat nomor 29, tanggal 9 Desember 1932. Saat itu pemerintah Belanda terus mengincar Bung Karno dan menyiapkan tempat pembuangan untuk pemimpin-pemimpin pergerakan Indonesia dengan semboyan “openhare orde”. Dalam nomor itu juga Bung Karno menulis artikel “Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi: yang menitikberatkan tentang sikap rakyat Indonesia untuk tidak membantu dan tidak berkooperasi dengan pemerintah jajahan.
Karikatur berikutnya….

Karikatur ini dimuat Fikiran Ra’jat nomor 28, tanggal 6 Januari 1933, di saat keadaan gawat. Belanda mulai menunjukkan kekejamannya terhadap setiap gerakan kemerdekaan. Sedangkan Bung Karno bertambah berapi-api menentang penjajahan. Simak, gambaran stelsel imperialisme yang hendak membawa lari “Ibu” (Indonesia), dikepung oleh rakyat. Pun dalam edisi tersebut, Bung Karno memuat tulisannya yang berjudul “Cooperatie tidak bisa mendatangkan massa actie dan maschtsvorming“.
Menarik pula karikatur yang berikut ini….

Karikatur ini dimuat Fikiran Ra’jat nomor 23, tanggal 2 Desember 1932. Saat itu Bung Karno secara berani dan tandas melalui rapat-rapat Partindo mengobarkan usaha mencapai Indonesia Merdeka, dan menunjukkan cara-cara bagaimana mengakhiri penjajahan Belanda di Indonesia. Koran-koran yang merupakan antek-antek Belanda seperti Java Bode – AID – Preanger Bode – dan Nieuws van den Dag telah berteriak-teriak meminta agar pemerintah kolonial Belanda menangkap Bung Karno dan membuangnya.
Terakhir, nikmati karikatur berikut:

Karikatur di atas merupakan kiriman pembaca majalah Fikiran Ra’jat dari Klaten, dan dimuat dalam penerbitan nomor 36, tanggal 3 Maret 1933. (roso daras)

Bung Karno alias Soemini

Media massa adalah salah satu alat perjuangan Bung Karno. Tidak lama setelah ia keluar dari penjara Sukamiskin, pada bulan Mei tahun 1932, ia menghidupkan kembali majalah Soeloeh Indonesia Moeda. Tidak lama kemudian, ia menerbitkan majalah Fikiran Ra’jat. Di kedua majalah itu, Bung Karno redaktur kepala (kalau sekarang, namanya Pemimpin Redaksi).
Propaganda menuju Indonesia merdeka ia suarakan melalui berbagai artikel dan karikatur. Pada setiap edisinya, paling sedikit Bung Karno menulis satu artikel. Bahkan yang menarik, di majalah Fikiran Ra’jat, ia sendiri yang mendesain cover dengan coretan karikaturnya yang jelek.
Dibilang jelek, karena memang secara estetis, lukisan karikatur Bung Karno cenderung statis. Sebagai karikaturis, ia menggunakan nama alias yakni Soemini. Kejelekan karya karikatur Bung Karno, juga terletak pada penjabaran panjang lebar mengenai arti karikatur di bawah gambar. Ini, untuk ukuran sekarang, tentu tidak lazim. Sebab, pada galibnya, sebuah karikatur tanpa harus ada keterangan panjang lebar, sudah dapat dicerna maknanya oleh pembaca.
Akan tetapi, karikatur yang jelek itu justru sangat pas pada zamannya. Selain tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, deretan kalimat panjang yang menjelaskan arti karikatur karya Bung Karno “Soemini” itu, bisa menjadi bahan propaganda, bahan provokasi yang efektif. Darinya, semangat rakyat terbakar. Darinya, pemerintah Hindia Belanda kebakaran jenggot.
Seperti contoh karikatur penghias naskah ini. Karikatur itu diberinya judul “Penyatuan Indonesia” yang menggambarkan Jenderal Van Heutsz yang menaburkan benih di ladang, yang lalu bersemi menjadi bendera-bendera merah-putih kecil. Di bawah gambar, ditulis keterangan, “Ia menaburkan bibit penyatuan Hindia Belanda,  lalu Persatuan Indonesia yang bersemi”. (roso daras)


http://rosodaras.wordpress.com/tag/karikatur/

Karikatur Islam

Kumpulan Gambar Karikatur wanita Muslim, keluarga Muslim, anak muslim
Apa anda mencari gambar karikatur muslim? Selamat anda berada di tempat yang tepat :D sekedar basa-basi. Berikut adalah kumpulan gambar karikatur muslim wanita, gambar karikatur keluarga muslim dan gambar karikatur anak muslim. Silahkan di lihat-lihat anda dapat mendownloadnya gratis disini, bisa dijadikan bahan koleksi di  hardisk komputer anda. Nantikan postingan gambar karikatur muslim lainnya di gambar.co ini :)

Berikut kumpulan gambar karikatur muslim tersebut :

gambar karikatur keluargagambar karikatur muslimgambar kartun karikatur muslimgambar kartun pasangan muslimkarikatur keluarga muslimkarikatur muslim ber pasangankarikatur muslim cantikkarikatur muslim islamkarikatur muslim musafirkarikatur muslim pasangan romantiskarikatur muslim pasangankarikatur muslimkarikatur pasangan muslim pernikahankarikatur pasangan muslimkarikatur wanita muslimfoto karikatur muslim pasangan romantisfoto karikatur muslim

Media Karikatur



Penggunaan Media Karikatur
Dalam Rangka Meningkatkan Keterampilan Berpikir Siswa
1. Pengertian Media Pembelajaran Karikatur
Media pembelajaran karikatur adalah media pembelajaran dalam bentuk gambar yang bermuatan humor dengan obyek manusia atau benda yang digambarkan dengan pemiuhan tubuh atau wajah serta mengandung suatu makna tertentu bagi pembaca. Kondisi serta pengkondisian siswa yang dilakukan oleh guru menjadi salah satu syarat terciptanya kegiatan belajar dan mengajar yang kondusif. Media karikatur menjadi salah satu alternatif pilihan sebagai media pembelajaran tersebut.
2. Klasifikasi Media Pembelajaran Karikatur
Media pembelajaran dengan karikatur merupakan salah satu jenis media pembelajaran visual karena karikatur merupakan media yang dapat diamati oleh indera penglihatan, atau dapat dilihat, dipandang, diperhatikan, disimak oleh siswa dengan baik.
3. Fungsi Media Pembelajaran Karikatur
Karikatur berfungsi menyampaikan pesan dan pelajaran dengan bingkai kemasan yang menarik sehingga mampu menarik perhatian siswa untuk membacanya. Ketika siswa melihat gambar karikatur tersebut, maka siswa akan berusaha menangkap isi pesan serta pelajaran yang terkandung di dalam karikatur tersebut. Terlepas dari sampai atau tidaknya pesan tersebut, namun umumnya karikatur mampu menarik perhatian sebagian besar siswa. Hal inilah yang menjadi modal dasar guru sebelum menyampaikan pelajaran yang lebih kompleks. Selain itu karikatur juga memiliki tujuan sebagai hiburan bagi siswa yang lelah terhadap materi pelajaran, di samping fungsinya sebagai media pembelajaran bagi siswa.
4. Manfaat Media Pembelajaran Karikatur
Adapun beberapa manfaat media pembelajaran dengan karikatur adalah sebagai berikut:
1.     Menarik minat siswa hingga dapat meningkatkan minat belajar.
2.     Lebih memperjelas makna bahan pelajaran sehingga lebih mudah dipahami dan memungkinkan siswa dapat menguasai tujuan pembelajaran dengan baik.
3.     Membuat variasi metode mengajar sehingga tidak semata-mata komunikasi verbal antara guru dan siswa. Dengan demikian siswa tidak akan bosan dengan gaya mengajar guru yang itu-itu saja.
4.     Lebih memperbanyak siswa melakukan kegiatan belajar, karena selain dari penjelasan guru, siswa juga mengamati serta memikirkan masalah dan pesan yang terkandung dalam karikatur tersebut.
5.     Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran serta hasilnya yang berkenaan dengan daya pikir siswa.
5. Contoh Gambar Media Pembelajaran Karikatur
Berikut ini disajikan contoh gambar media pembelajaran dengan karikatur:

http://decksmath4fun.wordpress.com/2012/02/29/media-karikatur/

Karikatur Jurnalistik sebagai media pembelajaran



Masih ingatkah dengan karikatur “Rekening Gendut Perwira Polisi” yang dimuat pada sampul majalah Tempo? Karikatur itu terbit pertengahan tahun lalu, saat sedang ramai-ramainya kasus Susno Duaji.  Secara reaktif,  Polri menyatakan berkeberatan dan tersinggung dengan gambar karikatur tersebut. Yang membuat Polri tersinggung, konon adalah gambar celengan yang divisualisasikan dengan gambar babi.

Kasus karikatur ini kemudian oleh pihak yang berkeberatan dibawa ke pengadilan. Sampai-sampai Dewan Pers turun tangan untuk melakukan mediasi. Hal yang menarik, ternyata pihak yang tersinggung menerjemahkan gambar karikatur yang memang imajinatif itu dengan tafsiran sendiri, seolah-olah persepsi merekalah yang paling benar.

Padahal, karikatur sebagai produk seni, tentu saja menghendaki penafsiran yang disertai persepsi imajinasi dari penikmatnya. Ketika imajinasi sudah turut campur, maka penikmat karikatur pasti disuguhi sebuah ruang interpretasi yang betul-betul bebas.

Hal demikian itu akan menjadi lebih menarik ketika sebuah karikatur dibawa ke ruang kelas. Sifat karikatur yang menampilkan suatu situasi sedemikian rupa akan merangsang siswa untuk mendapatkan gagasan sebuah tulisan, khususnya tulisan argumentasi. Siswa hanya perlu didukung pengetahuan mengenai konteks peristiwa yang disampaikan dalam karikatur tersebut.

Pemanfaatan karikatur sebagai media pembelajaran menulis karangan argumentasi lebih berdasar kepada persamaan tujuan keduanya. Karikatur dan karangan argumentasi, sama-sama berniat mempengaruhi banyak orang dengan pesan dan kesan yang dimuat di dalamnya.

Lantas, bagaimana cara memanfaatkan karikatur ini sebagai media pembelajaran? Setidaknya, langkah-langkah berikut bisa menjadi jalan untuk memanfaatkan karikatur tersebut sebagai sebuah media pembelajaran. Untuk permulaan, siswa di dalam kelas dapat dibagi menjadi beberapa kelompok. Nantinya, setiap kelompok mendapatkan beberapa potong paragraf (puzzle paragraf) yang harus mereka susun menjadi satu atau dua wacana. Dari wacana yang ada itu, satu di antaranya harus merupakan wacana argumentasi.

Selanjutnya, setiap kelompok akan berlomba menyusun paragraf acak itu menjadi sebuah wacana yang koheren. Setelah didapati kelompok yang mampu menyusun secara tepat dan cepat, kelompok tersebut ditugaskan untuk mengidentifikasi jenis wacana yang mereka susun. Kesimpulan yang mereka ambil haruslah disertai alasan berdasarkan ciri-ciri macam wacana.

Kegiatan tadi, selain dimaksudkan untuk mengetahui jenis paragraf dan cara menyusun paragraf yang koheren, tapi juga bertujuan untuk membangkitkan motivasi siswa untuk mendapatkan materi selanjutnya.

Beranjak ke bagian menyusun karangan argumentasi yang dimaksud, dapat dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut.
1)      Memilih karikatur jurnalistik dari koran cetak atau online,
2)      Mendiskusikan topik yang terkandung dalam karikatur yang disajikan,
3)      Mengaitkan konteks peristiwa yang termuat dalam karikatur,
4)      Mengumpulkan data-data pendukung dari kliping koran atau internet,
5)      Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih,
6)      Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan argumentasi yang utuh.

Setelah semua tahapan tersebut dilalui, selanjutnya siswa melakukan silang baca dengan rekannya. Silang baca ini dimaksudkan untuk tahap penyuntingan terhadap isi, penggunaan tanda baca, dan kesalahan dalam penulisan.

Melalui metode seperti ini diharapkan dapat membuat siswa menjadi bagian dari orang-orang yang bisa memberikan penyikapan terhadap isu-isu yang terjadi di sekelilingnya. Penyikapan yang muncul adalah penyikapan yang orisinil, yaitu penyikapan yang disampaikan dengan gaya dan bahasa mereka, bukan bahasa hafalan “di luar kepala” dari buku-buku teori. Tentunya kita setuju bahwa belajar terbaik bukanlah hanya sampai cerdas, melainkan juga sampai bijak.
Diposkan oleh adamkoben di 21.39 http://img1.blogblog.com/img/icon18_email.gif
Label: pengajaran
http://adamkoben-adamkoben.blogspot.com/2011/12/karikatur-jurnalistik-sebagai-media.html